MEMAHAMI 10 KWALITAS KARAKTER MANUSIA

Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan
kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”.

Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

Kerendahan Hati
Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa
membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

Kesetiaan
Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

Positive Thinking
Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka
mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.

Keceriaan
Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain,
juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

Bertanggung Jawab
Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.
Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

Percaya Diri
Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

Kebesaran Jiwa
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain.
Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa- masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Easy Going
Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah- masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

Empati
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain.
Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.


sumber Rustdi 


Related Posts:

SEPULUH KWALITAS KARAKTER

Ketulusan
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan
kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”.

Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

Kerendahan Hati
Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa
membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.

Related Posts:

GUNAKAN JURUS ANDA DENGAN MENGGUNAKAN 17 LANGKAH AGAR HIDUP MENJADI SEMPURNA

Untuk menjadikan Hidup kita agar terasa lebih sempurna Memang Sulit, karena kita juga tahu bahwa mnusia adalah makhluk Allah yang bersifat lemah, bahkan tidak memiliki daya dan Upaya kecuali bila ada pertolongan darinya.
Namun demikian sebagai Insan/ Manusia kita tetap harus tegar agar hidup yang kita jalani terasa menjadi sempurna. Itupun tidak juga bisa kecuali jika kita berusaha untuk mendapatkannya...................

Dibawah ini adalah merupakan usaha dan Cara Agar hidup menjadi sempurna...........yaitu sbb:

  1. Definisikan secara jelas visi, misi, dan tujuan hidup Anda. Tegaskan hidup Anda dengan nilai-nilai kehidupan yang akan Anda miliki untuk menjadi senjata buat menaklukkan semua tantangan dikehidupan Ini. Jangan malu untuk berpikir besar dan jangan takut untuk bermimpi setinggi mungkin. Ingat, hanya nafas kehidupan Anda yang menjadi batas terhadap impian hidup Anda.
  2. Tegaskan komitmen Anda untuk mencapai visi, misi, tujuan, dan nilai-nilai kehidupan Anda melalui kata-kata yang membangkitkan semangat dan motivasi Anda. Kata-kata sakti Anda tersebut harus dihasilkan dari lubuk hati terdalam, yang harus Anda yakini kekuatan dan kebenarannya tanpa ada setitik pun keraguan.
  3. Internalisasikan kata-kata sakti Anda tersebut ke dalam pikiran bawah sadar Anda. Lakukan proses internalisasi tersebut setiap saat melalui imajinasi dan ucapan. Pastikan semua visi, misi, tujuan, dan nilai-nilai kehidupan Anda menyatu tanpa ada pertentangan di dalam mind set Anda secara utuh dan sempurna.
  4. Awasi dan kendalikan pikiran dan perasaan Anda detik demi detik. Jangan biarkan pikiran dan perasaan Anda masuk ke zona cemas atau ke zona khawatir. Jagalah keyakinan, kepercayaan diri, dan kesatuan pikiran dan perasaan positif Anda di setiap nafas kehidupan Anda.
  5. Satukan pikiran dan perasaan kepada kekuatan kesadaran tertinggi melalui doa, meditasi, dan perenungan. Berbicaralah dengan batin terdalam untuk memperkuat rasa optimistis dan keyakinan.
  6. Pasralah kepada Tuhan. Ingat! Manusia hanya punya hak untuk bermimpi, berjuang, berharap, dan bercita-cita, tapi keputusan akhir ada pada Tuhan. Jadi jangan pernah kecewa, apa pun hasil dari perjuangan dan kerja keras Anda adalah sebuah kemenangan buat Anda. Tetaplah bersemangat dan tetaplah termotivasi sampai nafas terakhir kehidupan. Jangan pernah kecewa oleh hasil apa pun, tapi percayakan seratus persen hidup Anda kepada Tuhan.
  7. Miliki waktu luang untuk mendengarkan musik yang bisa membuat jiwa Anda tenang. Alirkan irama musik menjadi energi damai dan energi tenang ke pikiran dan perasaan Anda
  8. Jadilah seniman yang mampu mengekspresikan diri untuk hal-hal kreatif. Anda bisa mencoba menjadi pelukis, penulis puisi, penulis dongeng, memainkan alat-alat musik, atau apa pun yang Anda suka. Intinya, ekspresikan diri Anda melalui seni kreatif dan dapatkan pikiran dan perasaan yang damai dan bahagia.
  9. Bangunlah pagi-pagi dan siapkan diri Anda untuk melakukan hal-hal hebat di hari itu. Jangan lupa untuk berolahraga setiap hari. Carilah aktivitas olah raga yang membuat tubuh, pikiran, dan perasaan menjadi lebih segar dan lebih rileks.
  10. Miliki hobi kuliner. Belajarlah untuk memasak dan membuat resep baru. Temukan resep-resep makanan sehat yang mendukung kesehatan tubuh, pikiran, dan perasaan Anda. Ingat! Makanan sehat yang seimbang akan membuat diri Anda selalu sehat dan kuat.
  11. Bacalah buku atau blog yang bisa membuat Anda berkembang. Ilmu pengetahuan adalah energi yang mampu membuat diri Anda selalu kuat dan percaya diri. Dekatkan diri Anda kepada bacaan-bacaan berkualitas tinggi, dan nikmati kata-kata yang hebat untuk menjadi pribadi hebat.
  12. Berbicaralah kepada batin terdalam Anda. Dengarkan suara hati Anda. Isi batin terdalam Anda dengan kata-kata sakti untuk memperkuat daya tahan diri Anda. Pastikan Anda selalu menjadi pribadi tangguh yang tak tergoncangkan oleh badai kehidupan.
  13. Pimpinlah semua potensi diri Anda dengan penuh percaya diri. Yakinkan diri Anda untuk selalu berbesar hati dan berharap mendapatkan semua kebaikan dan kemudahan dari kehidupan yang indah ini
  14. Janganlah terlalu serius untuk menjadi pribadi yang sempurna. Hidup ini tidak pernah sempurna, Anda pun tidak pernah menjadi sempurna, dan orang-orang disekitar Anda pun tidak pernah menjadi sempurna. Tetapi, keindahan hidup itu ada saat Anda mencari hal-hal hebat untuk menyempurnakan diri Anda.
  15. Hidup yang bermanfaat itu membutuhkan praktik-praktik kehidupan yang hebat. Belajarlah dari realitas yang ada; tumbuh dan berkembanglah melalui sumber kebaikan hidup; dan bergeraklah melalui etika, moralitas, sikap baik, dan pengetahuan yang membuat diri Anda dan orang-orang lain merasa bahagia dan senang.
  16. Jadilah pribadi yang berbeda dan profesional. Miliki kemampuan pribadi yang unik dan berkarakter baik. Jadilah orang baik di hati siapa pun. Jangan pedulikan apa kata orang atau apa komentar orang lain tentang Anda. Anda hanya perlu berkonsentrasi dan berfokus untuk menjadi orang baik yang berguna buat kehidupan lain.
  17. Jangan pernah mau memahami atau pun mempelajari nilai-nilai kehidupan negatif. Ingat! Nilai-nilai kehidupan negatif hanya akan membatasi kedamaian, kesuksesan, kesehatan, kemakmuran, dan kehebatan diri Anda. Jadi, miliki kesadaran diri yang tinggi untuk meningkatkan kualitas kehidupan Anda melalui nilai-nilai kehidupan yang baik saja.



Demikian salam berbagi, semoga bermanfaat.........


Related Posts:

Ke Ikhlasan

Orang yang ikhlas adalah manusia yang dilindungi oleh Allah dari penyakit hati tersebut. Rasulullah memberi peringatan kepada umat Islam agar menjauhi hal-hal yang bisa menodai dan mengikis sifat keikhlasan kepada Allah seperti sombong. Sabda Rasulullah SAW: ''Sedikit dari sifat riya itu adalah syirik.Maka, barang siapa yang memusuhi wali-wali Allah niscaya sesungguhnya dia telah memusuhi Allah. Sesungguhnya Allah sangat mengasihi orang yang berbakti dan bertakwa serta yang tidak diketahui orang lain tentang dirinya. Jika mereka tidak ada dan hilang dalam acara apapun, mereka tidak dicari oleh orang lain, dan kalau mereka hadir di situ mereka tidak begitu dikenali oleh orang lain. Hati nurani mereka umpama lampu petunjuk yang akan menyinari mereka hingga mereka keluar dari tempat yang gelap gelita.'' (Hadis riwayat Hakim)

Itulah harapan dan impian mereka dengan pengabdian yang penuh tulus dan ikhlas semata-mata karena Allah. Allah berfirman, ''Katakanlah: sesungguhnya solatku dan ibadatku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara dan mengatur seluruh alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah aku diperintahkan dan aku (di antara seluruh umatku) adalah orang yang pertama Islam (yang berserah diri kepada Allah dan mematuhi perintah-Nya).'' (QS al-An'am, ayat 162 - 163).

Imam al-Ghazali menyatakan, semua manusia sebenarnya celaka, kecuali yang berilmu. Ilmuwan juga celaka, kecuali yang benar-benar mengamalkan ilmunya. Yang disebutkan terakhir ini pun celaka, kecuali yang menghiasi diri mereka dengan sifat ikhlas. Ringkasnya, selama seorang Muslim itu menyerahkan dirinya sepenuh hati kepada Allah dengan penuh keikhlasan, maka selama itulah segala gerak gerik dan diamnya, tidur dan jaganya akan dinilai sebagai satu langkah ikhlas dan tulus menuju keridaan Allah.
Tiga ciri ikhlas

Seorang yang ikhlas memiliki ciri tersendiri sehingga menjadi lambang keperibadiannya:
1. Pertama, tidak terpengaruh atau termakan oleh pujian dan cercaan orang lain. Bagi mereka segala pujian yang indah atau cercaan yang buruk adalah sama nilainya.
2. Kedua, tidak mengharapkan balasan atau ganjaran dari amal kebajikan yang pernah dilakukan, tetapi dia hanya mengharapkan keridaan Ilahi.

Rasulullah SAW bersabda: ''Pada hari kiamat nanti, dunia akan dibawa, kemudian dipisah-pisahkan, apa yang dikerjakan karena Allah dan apa yang dilakukan bukan karena Allah, lalu dicampakkan ke dalam api neraka.'' (Hadits riwayat Baihaqi)

3. Ketiga, orang yang tidak pernah mengungkit-ungkit kembali segala kebaikan yang pernah dilakukan. Artinya, orang yang selalu menyebut tentang kebaikan yang pernah dilakukan, apalagi menghina dan memburuk-burukkan orang yang pernah diberikan bantuan, maka sesungguhnya dia sangat jauh dari golongan orang yang ikhlas. Rasulullah SAW pernah memerintahkan kita agar bersedekah secara diam-diam, jauh dari penglihatan orang banyak. Umpama tangan kanan memberi sedangkan tangan kiri tidak mengetahuinya. Sabda Rasulullah SAW: ''Bahwa sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kamu, tetapi Dia hanya melihat kepada hati kamu.'' (Hadits riwayat Muslim)

Demikian semoga bermanfaat, jika postingan ini sangat bermanfaat silahkan bagikan
terima kasih........ 

salamku untuk semua para sahabat.........




Related Posts:

Tiga Pintu Kebijakan

Seorang Raja, mempunyai anak tunggal yg pemberani, terampil dan pintar. Untuk menyempurnakan pengetahuannya, ia mengirimnya kepada seorang pertapa bijaksana.
"Berikanlah pencerahan padaku tentang Jalan Hidupku" Sang Pangeran meminta.
"Kata-kataku akan memudar laksana jejak kakimu di atas pasir", ujar Pertapa.
"Saya akan berikan petunjuk padamu, di Jalan Hidupmu engkau akan menemui 3 pintu. Bacalah kata-kata yang tertulis di setiap pintu dan ikuti kata hatimu."

Sekarang pergilah sang Pertapa menghilang dan Pangeran melanjutkan perjalanannya. Segera ia menemukan sebuah pintu besar yang di atasnya tertulis kata "UBAHLAH DUNIA"
"Ini memang yang kuinginkan" pikir sang Pangeran. "Karena di dunia ini ada hal-hal yang aku sukai dan ada pula hal-hal yang tak kusukai. Aku akan mengubahnya agar sesuai keinginanku"
Maka mulailah ia memulai pertarungannya yang pertama, yaitu mengubah dunia. Ambisi, cita-cita dan kekuatannya membantunya dalam usaha menaklukkan dunia agar sesuai hasratnya. Ia mendapatkan banyak kesenangan dalam usahanya tetapi hatinya tidak merasa damai. Walau sebagian berhasil diubahnya tetapi sebagian lainnya menentangnya.

Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari, ia bertemu sang Pertapa kembali.
"Apa yang engkau pelajari dari Jalanmu ?" Tanya sang Pertapa
"Aku belajar bagaimana membedakan apa yang dapat klakukan dengan 




Related Posts:

Tiga Pintu Kebijakan

 Seorang Raja, mempunyai anak tunggal yg pemberani, terampil dan pintar. Untuk menyempurnakan pengetahuannya, ia mengirimnya kepada seorang pertapa bijaksana.
"Berikanlah pencerahan padaku tentang Jalan Hidupku" Sang Pangeran meminta.
"Kata-kataku akan memudar laksana jejak kakimu di atas pasir", ujar Pertapa.
"Saya akan berikan petunjuk padamu, di Jalan Hidupmu engkau akan menemui 3 pintu. Bacalah kata-kata yang tertulis di setiap pintu dan ikuti kata hatimu."
Sekarang pergilah sang Pertapa menghilang dan Pangeran melanjutkan perjalanannya. Segera ia menemukan sebuah pintu besar yang di atasnya tertulis kata "UBAHLAH DUNIA"
"Ini memang yang kuinginkan" pikir sang Pangeran. "Karena di dunia ini ada hal-hal yang aku sukai dan ada pula hal-hal yang tak kusukai. Aku akan mengubahnya agar sesuai keinginanku"
Maka mulailah ia memulai pertarungannya yang pertama, yaitu mengubah dunia. Ambisi, cita-cita dan kekuatannya membantunya dalam usaha menaklukkan dunia agar sesuai hasratnya. Ia mendapatkan banyak kesenangan dalam usahanya tetapi hatinya tidak merasa damai. Walau sebagian berhasil diubahnya tetapi sebagian lainnya menentangnya.
Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari, ia bertemu sang Pertapa kembali.

"Apa yang engkau pelajari dari Jalanmu ?" Tanya sang Pertapa
"Aku belajar bagaimana membedakan apa yang dapat klakukan dengan kekuatanku dan apa yang di luar kemampuanku, apa yang tergantung padaku dan apa yang tidak tergantung padaku" jawab Pangeran
"Bagus! Gunakan kekuatanmu sesuai kemampuanmu. Lupakan apa yang diluar kekuatanmu, apa yang engkau tak sanggup mengubahnya" dan sang Pertapa menghilang.
Tak lama kemudian, sang Pangeran tiba di Pintu kedua yang bertuliskan "UBAHLAH SESAMAMU"

"Ini memang keinginanku" pikirnya. "Orang-orang di sekitarku adalah sumber kesenangan, kebahagiaan, tetapi mereka juga yang mendatangkan derita, kepahitan dan frustrasi"
Dan kemudian ia mencoba mengubah semua orang yang tak disukainya. Ia mencoba mengubah karakter mereka dan menghilangkan kelemahan mereka. Ini menjadi pertarungannya yang kedua.
Tahun-tahun berlalu, kembali ia bertemu sang Pertapa.

"Apa yang engkau pelajari kali ini?"
"Saya belajar, bahwa mereka bukanlah sumber dari kegembiraan atau kedukaanku, keberhasilan atau kegagalanku. Mereka hanya memberikan kesempatan agar hal-hal tersebut dapat muncul. Sebenarnya di dalam dirikulah segala hal tersebut berakar"
"Engkau benar" Kata sang Pertapa. "Apa yang mereka bangkitkan dari dirimu, sebenarnya mereka mengenalkan engkau pada dirimu sendiri.
Bersyukurlah pada mereka yang telah membuatmu senang & bahagia dan bersyukur pula pada mereka yang menyebabkan derita dan frustrasi.
Karena melalui mereka lah, Kehidupan mengajarkanmu apa yang perlu engkau kuasai dan jalan apa yang harus kau tempuh"

Kembali sang Pertapa menghilang.
Kini Pangeran sampai ke pintu ketiga "UBAHLAH DIRIMU"
"Jika memang diriku sendiri lah sumber dari segala problemku, memang disanalah aku harus mengubahnya". Ia berkata pada dirinya sendiri.
Dan ia memulai pertarungannya yang ketiga. Ia mencoba mengubah karakternya sendiri, melawan ketidak sempurnaannya, menghilangkan kelemahannya, mengubah segala hal yg tak ia sukai dari dirinya, yang tak sesuai dengan gambaran ideal.

Setelah beberapa tahun berusaha, dimana sebagian ia berhasil dan sebagian lagi gagal dan ada hambatan, Pangeran bertemu sang Pertapa kembali.
"Kini apa yang engkau pelajari ?"
"Aku belajar bahwa ada hal-hal di dalam diriku yang bisa ditingkatkan dan ada yang tidak bisa saya ubah"
"Itu bagus" ujar sang pertapa. "Ya" lanjut Pangeran, "tapi saya mulai lelah untuk bertarung melawan dunia, melawan setiap orang dan melawan diri sendiri. Tidakkah ada akhir dari semuai ini ? Kapan saya bisa tenang ? Saya ingin berhenti bertarung, ingin menyerah, ingin meninggalkan semua ini !"

"Itu adalah pelajaranmu berikutnya" ujar Pertapa. Tapi sebelum itu, balikkan punggungmu dan lihatlah Jalan yang telah engkau tempuh". Dan ia pun menghilang.
Ketika melihat ke belakang, ia memandang Pintu Ketiga dari kejauhan dan melihat adanya tulisan di bagian belakangnya yang berbunyi "TERIMALAH DIRIMU".
Pangeran terkejut karena tidak melihat tulisan ini ketika melalui pintu tsb.
"Ketika seorang mulai bertarung, maka ia mulai menjadi buta" katanya pada dirinya sendiri.
Ia juga melihat, bertebaran di atas tanah, semua yang ia campakkan, kekurangannya, bayangannya, ketakutannya. Ia mulai menyadari bagaimana mengenali mereka, menerimanya dan mencintainya apa adanya.

Ia belajar mencintai dirinya sendiri dan tidak lagi membandingkan dirinya dengan orang lain, tanpa mengadili, tanpa mencerca dirinya sendiri.
Ia bertemu sang Pertapa, dan berkata "Aku belajar, bahwa membenci dan menolak sebagian dari diriku sendiri sama saja dengan mengutuk untuk tidak pernah berdamai dengan diri sendiri. Aku belajar untuk menerima diriku seutuhnya, secara total dan tanpa syarat."
"Bagus, itu adalah Pintu Pertama Kebijaksanaan" , ujar Pertapa. "Sekarang engkau boleh kembali ke Pintu Kedua"
Segera ia mencapai Pintu Kedua, yang tertulis di sisi belakangnya "TERIMALAH SESAMAMU"

Ia bisa melihat orang-orang di sekitarnya, mereka yang ia suka dan cintai, serta mereka yang ia benci. Mereka yang mendukungnya, juga mereka yang melawannya.
Tetapi yang mengherankannya, ia tidak lagi bisa melihat ketidaksempurnaan mereka, kekurangan mereka. Apa yang sebelumnya membuat ia malu dan berusaha mengubahnya.
Ia bertemu sang Pertapa kembali, "Aku belajar" ujarnya "Bahwa dengan berdamai dengan diriku, aku tak punya sesuatupun untuk dipersalahkan pada orang lain, tak sesuatupun yg perlu ditakutkan dari merela. Aku belajar untuk menerima dan mencintai mereka, apa adanya.
"Itu adalah Pintu Kedua Kebijaksanaan" ujar sang Pertapa,

"Sekarang pergilah ke Pintu Pertama"
Dan di belakang Pintu Pertama, ia melihat tulisan "TERIMALAH DUNIA"
"Sungguh aneh" ujarnya pada dirinya sendiri "Mengapa saya tidak melihatnya sebelumnya". Ia melihat sekitarnya dan mengenali dunia yang sebelumnya berusaha ia taklukan dan ia ubah.
Sekarang ia terpesona dengan betapa cerah dan indahnya dunia. Dengan kesempurnaannya.
Tetapi, ini adalah dunia yang sama, apakah memang dunia yang berubah atau cara pandangnya?
Kembali ia bertemu dengan sang Pertapa : "Apa yang engkau pelajari sekarang ?"

"Aku belajar bahwa dunia sebenarnya adalah cermin dari jiwaku. Bahwa Jiwaku tidak melihat dunia melainkan melihat dirinya sendiri di dalam dunia. Ketika jiwaku senang, maka dunia pun menjadi tempat yang menyenangkan. Ketika jiwaku muram, maka dunia pun kelihatannya muram.
Dunia sendiri tidaklah menyenangkan atau muram. Ia ADA, itu saja.
Bukanlah dunia yang membuatku terganggu, melainkan ide yang aku lihat mengenainya. Aku belajar untuk menerimanya tanpa menghakimi, menerima seutuhnya, tanpa syarat.
"Itu Pintu Ketiga Kebijaksanaan" ujar sang Pertapa. "Sekarang engkau berdamai dengan dirimu, sesamamu dan dunia" Sang pertapa pun menghilang.
Sang pangeran merasakan aliran yang menyejukkan dari kedamaian, ketentraman, yang berlimpah merasuki dirinya. Ia merasa hening dan dama




Related Posts:

Kekuatan Sebuah Pujian

Ada dua gadis bekerja pada sebuah perusahaan yang sama. Nona Wang dan Chang. Keduanya memiliki karakter yang berbeda dan karenanya tak dapat sharing atau bertukar pikiran bersama. Walaupun keduanya tidak saling membenci, namun mereka bukanlah sahabat karib dan tak saling mengagumi cara kerja serta sifat masing-masing.

Suatu hari, nona Chang meminta teman kerja yang lain, Pak Chou, untuk menegur nona Wang agar ia memperbaiki serta mengontrol dorongan emosinya. Sebab kalau tidak demikian, tak akan ada orang yang mau berteman dengannya. Demikian alasan nona Chang. Pak Chou menyetujui permintaan nona Chang itu.

Setelah beberapa hari, nona Chang berpapasan dengan nona Wang. Nona Wang dengan penuh ramah dan sopan menegur nona Chang. Sejak itu nona Chang melihat adanya perubahan besar dalam diri nona Wang, yang kelihatannya seakan-akan telah berubah menjadi seorang peribadi baru, seorang peribadi yang menyenangkan dan disukai banyak orang.

Nona Chang lalu bertemu Pak Chou untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya, serta menanyakan resep yang dipakai Pak Chou menasihati nona Wang. Pak Chou menjawab: 'Saya hanya berkata kepada nona Wang: Saat ini ada banyak orang yang memuji dan mengagumimu. Terutama nona Chang secara istimewa mengatakan bahwa engkau sangat lemah lembut, tahu mengontrol emosi, serta disukai banyak orang'.
Nona Chang tertegun akan kehebatan Pak Chou yang telah mengubah peribadi nona Wang itu.
Pujian adalah bunyi yang paling indah dari segala jenis bunyi-bunyian.


sumber: Fb,RusTadi

Related Posts:

Aksara Tak Bisu

Aksara Tak Bisu
Bukit itu terlalu sunyi untuk di katakan wajar.
Setelah dipersilahkan masuk ke rumah orang tua itu, aku duduk pada kursi di ruang tamu. Ia meraih sebungkus tembakau kasar. Disodorkannya tembakau itu di meja, beserta kertas dolar untuk melinting tembakau.
Maafkan saya atas peristiwa tadi, tulis orang tua itu pada secarik kertas. Di bukit ini, kami cukup hati-hati dengan pendatang baru. Apa lagi sedang beredar isu, keberadaan kami di bukit ini tengah dimata-matai oleh penguasa kerajaan ini.
Diberikannya catatan kecil itu kepadaku untuk kubaca. Spontan, setelah membaca catatan kecil pada carikan kertas tersebut, timbul keinginan dalam benakku, untuk juga menuliskan sesuatu kepada orang tua itu, sekadar untuk mencairkan suasana. Tanpa bertanya terlebih dahulu, aku bermaksud mengambil secarik kertas dari tumpukan kertas yang ada di meja. Namun sebelum aku sempat menyentuh tumpukan kertas itu, orang tua itu malah mencegah diriku. Seperti tahu apa yang kupikirkan, orang tua itu meraih secarik kertas dan menulis:

Bicaralah! Bukankah adik dapat berbicara? Jangan sungkan untuk berbicara. Walaupun saya bisu, saya masih bisa mendengarkan dan mengerti dengan baik bahasa lisan. Angaplah saja adik sedang bercakap-cakap dengan sahabat Adik.

Aku jadi serba salah.
“Em…,” kucoba menyembunyikan rasa maluku. “Em… maaf, Pak. Saya hanya ingin menunjukkan rasa hormat serta niat baik saya kepada Anda. Saya pikir… dengan menulis seperti yang Bapak lakukan, perbincangan kita akan semakin cair. Tetapi jika…” tak kuselesaikan kalimatku, saat kulihat ia telah mengangguk-angguk sambil tersenyum maklum.
“Em… tentang kejadian tadi, sebenarnya telah saya lupakan. Lagi pula, saya sama sekali tidak menyalahkan Bapak atas peristiwa tadi. Menurut saya wajar jika Bapak merasa perlu waspada dengan kedatangan orang baru seperti saya. Apa lagi jika memang sedang beredar isu kalau ada mata-mata raja yang hendak memata-matai kehidupan di bukit ini.”

Orang tua itu masih memperhatikan aku dengan saksama. Aku jadi sedikit kikuk.
“Juga… terima kasih Pak, ‘tuk suguhannya,” tanganku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
“Tapi, maaf Pak. Saya tak biasa, atau mungkin lebih tepat tak bisa isap lintingan. Terlalu keras. Kretek saja Pak…” aku tersenyum, mengulum rasa malu bercampur segan. Kukeluarkan sebungkus rokok kretek dari saku celanaku. Kembali ia tersenyum padaku.

Sebelum ia mulai menulis lagi pada kertas yang sama, ia menyodorkan sekotak korek api kepadaku untuk membakar rokok.

Sudah puluhan tahun aku tidak menggunakan pita suaraku. Selama itu pula, semua perasaan, pendapat dan pikiranku kuungkapkan lewat tulisan pada carikan-carikan kertas. Tetapi sekali lagi, Adik tak perlu sungkan untuk berbicara. Saya termasuk generasi yang dapat mendengarkan dan mengerti bahasa lisan dengan baik, tulisnya.

Aku belum selesai membaca catatan tersebut ketika seorang gadis cantik datang membawa dua cangkir kopi hangat dan sepiring pisang goreng. Piring kaca alas cangkir berdenting nyaring saat bersentuhan dengan meja marmer yang telah sedikit retak di ujungnya. Cuping hidungku mengembang, menghirup uap kopi hangat yang membubung naik bercampur aroma pisang goreng. Ku isap rokokku dalam-dalam. Sempurna.
Gadis itu mengambil secarik kertas dan menulis:

Maaf. Mungkin tak seenak ‘white coffee’ juga kopi luwak, tapi ini dari biji kopi pilihan; yang terbaik yang kami miliki; asli buah tanah bukit ini. Silahkan dinikmati.

Ia tersenyum padaku seraya mempersilahkan diriku menyantap hidangan yang telah tersedia. Sederhana, tetapi anggun. Itu kesan pertamaku. Pandanganku lekat pada gadis manis itu sebelum akhirnya ia tersenyum lagi, lalu berlalu ke belakang dan terpeleh tirai.
Sebuah catatan kecil pada carikan kertas yang lain disodorkan lagi kepadaku. Orang tua itu menulis:
Ia adalah putri tunggalku. Namanya Ree. Ibunya meninggal dua tahun lalu. Sejak saat itu ia yang mengurus pekerjaan rumah tangga.

Aku mengangguk-angguk, namun dengan dahi yang berkerut. Aku mengerti sesuatu sekaligus tidak mengerti hal yang lain. Kutatap wajah orang tua itu dengan sebuah pertanyaan yang seperti tersangkut di tenggorokan. Ia mengambil pena dan menulis, namun bukan lagi pada carikan kertas. Pada selembar kertas yang cukup panjang, ia menulis:

Saya mengerti apa yang hendak Adik tanyakan. Begini:
Hegemoni tak pernah pasti selama harapan dan perjuangan ada dalam hati, ia memulai catatannya.
Tidak semua orang gampang menentukan bagian tubuh mereka yang paling penting dan yang paling mereka banggakan. Memilih yang satu dan mengeliminasi yang lain sering menimbulkan dilema. Namun, tidak demikian dengan penduduk bukit ini. Jika penduduk bukit ini disuruh memilih satu anggota tubuh yang paling penting dan paling membanggakan, boleh jadi tanpa berpikir dua kali, kami akan menjawab, “Pita suara!”; andai kata kami dapat berteriak kini.

Sebab, tidak ada anugerah para dewa yang lebih indah dari pada Pita Suara.
Ia memberi kesempatan kepadaku untuk membaca awal catatannya. Kalimat terakhir awal catatannya itu ia tulis dengan tinta biru.
Sayangnya, ia melanjutkan catatannya, generasi kami adalah generasi terakhir yang dapat menikmati anugerah terindah itu.

Dulu kami semua punya pita suara. Suku kami sungguh yakin kalau pita suara adalah anugerah khusus para dewa. Maka, sejak kacil kami sudah sungguh di didik untuk tahu menggunakan anugerah dewa yang terindah itu. Kami di didik dengan keras untuk menjadi penyanyi, penyair, orator, serta retor; menjadi pengguna anugerah dewa. Bahkan hasilnya, tak sedikit dari antara kami yang menjadi penyanyi, penyair, serta retor-retor, dan orator-orator yang ulung dan tersohor di penjuru kerajaan.

Kala malam purnama datang, di sekeliling api unggun, kami berkumpul untuk bernyanyi, melantunkan syair-syair kuno, juga mendengarkan kepala suku kami bercerita tentang nenek moyang kami. Kami juga berdiskusi bahkan berdebat tentang hari-hari hidup kami dan kerajaan ini. Semuanya begitu indah.
Hingga suatu senja….
* * *
….dituduh salah menggunakan anugerah para dewa, menjadi suku pemberontak dan penghasut di kerajaan demokrasi ini, kami dijatuhi hukuman yang sungguh tak adil. Tak ada seorang pun yang di hukum gantung. Tetapi, pita suara semua kami, penghuni bukit ini, mesti di potong.
Keputusan itu telah menjadi bencana terbesar yang pernah kami alami sepanjang sejarah bukit ini. Sejak petang itu, lenyaplah nyanyian; tak ada lagi dongeng; tak ada diskusi; tak ada puisi; dan tak ada pidato. Tangisan kami tak membekaskan suara sedikit pun. Bahkan bisikan pun tak menyisakan sedikit bunyi untuk setitik makna.

Terlalu perih untuk dikenang….
….sadar waktu tak punya pilihan untuk berhenti. Generasi yang baru pun muncul mengganti generasi yang pergi. Anak-anak kami, termasuk putriku Ree, lahir dengan pita suara yang baik.
Bagi kami, itu adalah tanda bahwa para dewa tak pernah melupakan kami. Namun sayang, tak seorang pun dari generasi kami mampu mengajarkan mereka berbicara, bernyanyi, berkisah, melantunkan syair, bahkan untuk sekedar berbisik. Bayangkanlah, tak satu pun dari kami. Betapa menyedihkan….
Demikian penggalan kisah yang dicatat sendiri oleh orang tua itu tentang sunyi bukit itu.

* * *
Maka suatu senja, pada secarik kertas lusuh, kami sepakat untuk satu hal yang tak akan lusuh. Kami sepakat untuk membangun dunia kami sendiri; dunia kami di bukit ini. Orang tua itu terdiam sejenak sebelum kembali menulis lagi: Sebuah dunia tulisan; dunia aksara, walau tanpa suara.
“Maafkan aku Pak,” rasanya dadaku terlalu sesak untuk mengungkapkan apa yang ingin kuungkapkan. Aku tertegun usai membaca kisah yang ditulis orang tua itu.

Di luar, sinar dan panas mentari tak seberapa lagi. Burung-burung malam mulai menampakkan diri. Mengingat hari telah semakin gelap, segera kusampaikan maksudku kepada orang tua itu untuk pulang. Orang tua itu tampaknya maklum dengan kecemasanku. Hutan di bukit ini tak selalu aman di malam hari.

Ia menepuk tangan tiga kali. Mungkin itu adalah isyarat untuk memanggil Ree, putrinya, sebab tak lama berselang Ree datang. Seperti sudah mengerti apa yang harus dikerjakan, Ree segara mengumpulkan cangkir berisi ampas kopi, serta beberapa buah pisang goreng yang tersisa. Ia tersenyum padaku sebelum pergi ke belakang.

Penguasa negeri ini, tulis orang tua itu sebelum aku pergi, kini memata-matai keberadaan kami di bukit ini. Tentu mereka ingin memastikan generasi penerus kami tak dapat bernyanyi, berbicara, berteriak, berpidato, bahkan berbisik satu dengan yang lain. Jika mereka tahu generasi penerus kami tak dapat menggunakan pita suara, bahkan untuk berbisik sekalipun, tentu mereka akan merasa berhasil membungkam suara kami bahkan suara anak cucu kami; generasi penerus kami. Tetapi sampai kapan pun, mereka tak pernah mengerti kalau sesungguhnya di bukit ini, hanya anjing yang tak bicara.
Dengan tulisan yang dipertebal ia mengakhiri catatan itu: Sebab, AKSARA TAK BISU!

Kulipat catatan itu. Kusimpan catatan akhir itu dalam saku bajuku bersama semua catatan yang telah ia berikan kepadaku sepanjang hari itu. Aku berlangkah menembus senja yang menjelang malam. Sebelum sampai di hutan, batas bukit itu, kusempatkan diri menoleh ke belakang untuk yang terakhir kali. Samar-samar, rumah orang tua itu terlihat di celah pepohonan. Aku tertunduk penuh penyesalan. Aku ingin jujur kepada orang tua itu, kalau sesungguhnya aku adalah mata-mata raja.

* terinspirasi dari salah satu adegan
dalam novel “LARUNG”, karya Ayu Utami


Related Posts:

Charlie and Daisy

Charlie and Daisy
Charlie tak pernah menduga ia akan bertemu Daisy ketika ia sudah tak lagi muda, bahkan pernah berfikir akan menikmati masa tuanya kesepian.
Charlie dan Daisy bertemu pertamakali di sebuah terminal bus di kampung halaman mereka di South Molton, Devon, sembilan tahun lalu. Jatuh cinta pada pandangan pertama, sehingga mereka berdua ketinggalan bus yang akan dinaiki karena takut kehilangan kesempatan untuk saling mengenal.

Charlie Winter, 91 tahun dan Daisy Pike, 89 tahun akhirnya resmi menikah setelah 9 tahun pacaran. Pada hari Minggu tanggal 16 Maret 2014 di Gereja St Mary Magdalene, Devon, Inggris, mereka berjalan bersama-sama ke altar dengan menggunakan bantuan tongkat. Keduanya tampak bahagia dengan sinar mata yang berbinar-binar.

Related Posts:

AKU BUKANLAH SEGALANYA

Aku Bukanlah Segalanya
 “Titt… Tiitt!” ku raih segera handphoneku yang lagi nagkring di meja belajarku, ku buka segera sebuah pesan singkat di layar handphoneku.

From: Faza
Hai Neisya?, met pagi ya:D!
Huft, lagi-lagi dia yang sms, bagaimana sih bentuk wajahnya?, seseorang yang ngaku punya nama Faza dan satu sekolah sama aku selalu mengisi inbox hpku entah hanya menyapa, malah kadang pernah ngobrol, asyik sih kalau sama dia bisa nyambung, tapi upss! Itu gak baik Neisya! Kamu belum tahu dia, siapa tahu kalau dia om om, terus kamu dibohongin, jangan sok fair gitu donk! Huft, ya bener juga sih, ku urungkan niatku untuk membalas pesan darinya.

Related Posts: